Cincin Berlian (Kelley, 2017).

Berlian atau sering dikenal dengan intan (diamond) merupakan harta karun yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada bangsa Indonesia, khususnya kepada bumi Kalimantan. Dari belasan ribu pulau di Indonesia, hanya Borneo Island -lah satu-satunya pulau yang meyimpan harta karun berharga tersebut. Tentunya berlian  yang dijuluki sebagai mineral terkeras di bumi ini memiliki asal-usul atau keterbentukan yang tidak sederhana alias kompleks. Sedikit informasi yang penulis ketahui bahwa berlian merupakan mineral yang terkandung dalam batuan beku (batuan hasil pembekuan magma). Artinya, apabila bersumber dari magma, sudah seharusnya lingkungan tempat ditemukannya berlian ini merupakan lingkungan vulkanik yang dicirikan dengan banyak hadirnya gunung api aktif. Tetapi sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kehadiran gunung api aktif di Kalimantan sangatlah jarang. Sehingga bagaimana bisa berlian ini terkandung di dalam bumi Kalimantan? Hal inilah yang membuat para scientist geologi lokal maupun internasional berlomba-lomba membedah misteri tersebut.

Sebelum membahas lebih dalam, secara singkat marilah kita berkenalan terlebih dahulu dengan berlian atau intan. Masyarakat awam mungkin mengetahui sekaligus sering menyebutkan bahwa berlian sama dengan intan. Ya, sebenarnya memang sama, namun sederhanya yang membedakan antara keduanya ialah berlian merupakan intan yang sudah diolah, dibentuk dan diasah sebaik mungkin sehingga menghasilakan kilauan cahaya dan bentuk yang indah untuk dijadikan perhiasan oleh manusia. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), intan merupakan batu permata yang berkilauan dan berasal dari karbon murni dalam bentuk kristal (zat yang terkenal paling keras dan biasa dipakai untuk permata cincin, gelang, kalung, giwang, bros, dll). Sedangkan arti berlian menurut KBBI adalah intan yang diasah sebaik mungkin hingga indah kemilau cahayanya (Syah, 2020). Sementara permata merupakan sebutan lain dari batu mulia yang bayak macamnya.

Berlian secara ilmu mineralogi dan kristalografi terbentuk dari unsur yang sama seperti grafit, yaitu karbon (C). Grafit ini merupakan mineral berwarna hitam yang biasanya dimanfaatkan untuk membuat pensil. Gambaran umumnya seperti arang hasil pembakaran. Selain grafit, batubara juga memiliki unsur pembentuk yang sama dengan berlian. Lantas apabila memiliki unsur yang sama apa yang menjadi pembedanya? Pertama, perbedaannya terletak pada keterbentukannya. Batubara terbentuk secara organik sementara berlian terbentuk secara anorganik. Perbedaan kedua dapat dilihat dari struktur kristalnya (ikatan kimia antar unsur). Berlian memiliki struktur kristal tetrahedron sedangkan grafit atau batubara memiliki struktur kristal hexagonal (Hakim, 2019).

Struktur Kristal Intan dan Grafit (Utamai, 2020).

Kembali lagi ke asal muasal keberadaan berlian di pulau Kalimantan. Sebuah penelitian dilakukan sekelompok geologiawan yang dipimpin oleh L. T. White pada tahun 2015 untuk menguak misteri keterbentukan berlian di pulau Kalimantan. Penelitian ini berjudul The provenance of Borneo’s enigmatic alluvial diamonds: A case study from cempaka, SE Kalimantan. Hasil penelitian tersebut salah satunya menghasilkan suatu model geologi yang menjelaskan bagaimana berlian tersebut terbentuk sekaligus mampu muncul ke permukaan.

Cempaka, Kalimantan Timur (White et al., 2016).

Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa batas berlian dapat terbentuk berada 150 km di bawah permukaan bumi. Batas disini erat kaitannya dengan panas dan tekanan, karena semakin dalam ke bawah permukaan bumi semakin tinggi pula panas dan tekanannya. Artinya hanya panas dan tekanan yang terletak di kedalaman 150 km di bawah permukaan bumilah yang memadai untuk terbentuknya suatu berlian. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa biasanya berlian terkandung pada pipa intrusi kimberlite atau lamproite. Pipa intrusi kimberlite ini salah satunya dapat ditemui di Afrika Selatan. Namun berbeda halnya dengan kasus di pulau Kalimantan ini, tidak atau mungkin belum ditemui adanya intrusi tersebut. Mungkin hal ini dikarenakan intensitas hujan yang tinggi, hutan hujan yang lebat, serta intensifnya pelapukan yang terjadi membuat para ahli geologi sulit untuk mencari keberadaan intrusi tersebut (White et al., 2016). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada model geologi hasil penelitian L. T. White dan kawan-kawan di bawah ini.

Model Gelogi (White et al., 2016).

Para geologist membuat beberapa kemungkinan bagaimana baerlian yang jauh terletak di kedalaman perut bumi bisa muncul ke permukaan. Pertama, berlian bisa muncul ke kedalaman yang lebih dangkal dibawa oleh intrusi (penerobisan magma ke permukaan) sehingga memberikan jalan bagi berlian untuk bisa naik ke dekat permukaan bumi. Kedua, berlian dapat terangkat melalui mekanisme obduksi (tabrakan antar lempeng benua), dimana dalam mekanisme ini berlian berasosiasi dengan batuan ultrabasa. Ketiga, keterdapatan berlian di zona penunjaman mengakibatkan berlian terangkat ke permukaan ketika terjadinya orogenesis (pembentukan gunung api). Keempat, ini yang paling menarik, salah satu geologist asal Australia yang bernama W. L. Griffin dalam penelitiannya menyebutkan bahwa berlian yang ada di Kalimantan saat ini merupakan berlian hasil transportasi yang sangat jauh. Mekanisme ini terjadi pada saat pulau Kalimantan belum terpisah dari Indochina. Disana terdapat sungai besar yang mengalir dari daratan Sibumasu. Sungai inilah yang menjadi media transportasi berlian hingga akhirnya sampai ke pulau Kalimantan (Griffin et al., 2001).

Transportasi Berlian (White et al., 2016).

Setelah membaca penjelasan-penjelasan di atas akhirnya terkuak sudah misteri bagaimana harta karun berlian bisa terkandung di pulau Kalimantan. Sudah tentu berbagai kemungkinan asal muasal keterbentukan berlian tidak terjadi dengan sendirinya, namun ada campur tangan Dzat Yang Maha Kuasa sebagai pengatur seluruh alam semesta. Adakalanya kita sebagai manusia harus lebih bersyukur tatkala menyadari berbagai macam bukti akan kuasa-Nya yang membuat umat masunia hidup tentram di dunia. Timbal baliknya? Karunia ini kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan umat manusia tanpa harus merusak apa yang telah disimpan-Nya di perut bumi kita tercinta.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Referensi :

Griffin, W. L., Win, T. T., Davies, R., Wathanakul, P., Andrew, A., & Metcalfe, I. (2001). Diamonds from Myanmar and Thailand: Characteristics and possible origins. Economic Geology, 96(1), 159–170. https://doi.org/10.2113/gsecongeo.96.1.0159

Hakim, A. Y. Al. (2019). Mineralogi (1st ed.). ITB Press.

Kelley, L. (2017). Eternity Ring. Pexels.Com. https://www.pexels.com/id-id/foto/foto-close-up-diamond-stud-berwarna-silver-eternity-ring-691046/

Syah, A. (2020). Perbedaan Antara Batu Berlian Asli dan Intan. February, 2–5. https://www.researchgate.net/publication/339401171

Utamai, S. N. (2020). Perbedaan Antara Intan dan Grafit. Kompas.Com. https://www.kompas.com/skola/read/2020/12/30/125802569/perbedaan-antara-intan-dan-grafit?page=all

White, L. T., Graham, I., Tanner, D., Hall, R., Armstrong, R. A., Yaxley, G., Barron, L., Spencer, L., & van Leeuwen, T. M. (2016). The provenance of Borneo’s enigmatic alluvial diamonds: A case study from Cempaka, SE Kalimantan. Gondwana Research, 38(2016), 251–272. https://doi.org/10.1016/j.gr.2015.12.007