Seorang anak kampung pelosok yang pergi jauh meninggalkan kampung halamannya demi menuntut ilmu, untuk kemudian setelah ia mempunyai cukup ilmu ia pulang, lalu dengan ilmu tersebut dia gunakan untuk memajukan daerahnya, merupakan salah satu tujuan mulia setiap anak rantauan. Bahkan alkisah salah satu ibu imam besar umat muslim, yaitu Ibunda Imam Syafi’i sempat menolak akan dibawakan ratusan unta dari anaknya yang katika itu ingin pulang tatkala sedang merantau menuntut ilmu. Imam Syafi’i akhirnya diizinkan pulang dari perantauannya ketika dia berkata kepada ibundanya hanya akan membawa kitab dan ilmu saja dari perantauan, bukan harta benda.  Begitu mulianya seseorang yang merantau jauh untuk menuntut ilmu. Ya, kurang lengkap rasanya apabila dengan ilmu yang kita miliki tidak menjadikan kita lebih mengenal dengan tempat kita lahir. Sumedang merupakan daerah kelahiran penulis blog ini. Oleh karena itu, kali ini penulis akan mencoba mejelaskan  salah satu hal yang ada di kota kelahiran penulis secara ilmiah.

Sempat mempelajari keilmuan Geologi selama di bangku kuliah, membuat penulis tergugah untuk mengangkat kisah terbentuknya Gunung Tampomas. Gunung yang berdiri kokoh di Kota Tahu ini diperkirakan awal mulanya terbentuk hampir 2 juta tahun yang lalu, atau dalam skala waktu geologi disebut Zaman Kuarter. Namun, sebelum masuk ke pembahasan secara keilmuan geologi, mari kita cari tahu sekilas cerita rakyat mengenati gunung Tampomas ini. Pada mulanya gunung Tampomas bernama Gunung Gede. Namun bagaimana sekarang bisa berganti nama menjadi gunung Tampomas? Diambil dari salah satu isi jurnal yang ditulis oleh Windu Mandela tahun 2015, alkisah pada masa lampau Kerajaan Sumedang Larang dihebohkan dengan getaran dan gemuruh dari dalam bumi yang hebat. Raja pada saat itu terkejut dan bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Ternyata gunung Gede akan meletus. Hal ini tentutnya membuat raja panik dan khawatir akan keselamatan rakyatnya. Akhirnya sang raja memututskan untuk bersemedi agar mendapat petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam semedinya itu sang raja akhirnya mendapat ilham berupa bisikan ghaib. Ilham tersebut berisikan petunjuk apabila tidak ingin gunung Gede meletus, maka sang raja harus melemparkan keris emasnya ke dalam kawah gunung Gede. Singkatnya, sang raja memberanikan diri mengambil resiko keselamatannya. Demi rakyat yang ia cintai, ia sendirian mendaki gunung Gede yang akan erupsi untuk melemparkan keris emas miliknya. Ajaibnya, setelah keris emas tersebut dilemparkan gunung yang semula bergemuruh, seolah-olah akan memuntahkan isi perut bumi, menjadi tenang seketika. Alhasil, raja beserta rakyatnya selamt dari ancaman bencana tersebut. Sejak saat itulah gunung Gede berubah nama menjadi gunung Tampomas yang berarti nampa (menerima) emas (Mandela, 2015).

Setelah mengetahui secara singkat tentang cerita rakyat Sumedang mengenai Gunung Tampomas, barulah kita membahas bagaimana Gunung Tampomas terbentuk dari sugut pandang geologi.  Kembali lagi ke awal bahwa gunung Tampomas ini termasuk gunung yang terbentuk pada zaman kuarter atau sekitar 2 juta tahun yang lalu. Penelitian yang ditulis oleh Irwan Iskandar dan kawan-kawan pada tahun  2017  menjelaskan bahwa gunung Tampomas merupakan tipe gunung api Stratovolkano kecil yang tidak aktif. Gunung yang memiliki puncak 1685 mdpl ini tidak memiliki catatan letusan bersejarah sejak penjajahan Belanda di Indonesia, sehingga dikategorikan sebagai gunung api tipe C (Iskandar et al., 2018).

Tipe gunung api stratovolkano berdasarkan namanya, terbentuk dari beberapa lapisan (strata) aliran lava akibat erupsi yang berulang-ulang. Beberapa jenis gunung berapi stratovolkano terbentuk selama beberapa ribu tahun, tetapi mungkin bisa aktif kembali pada puluhan bahkan ratusan tahun kemudian dan istirahat kembali pada rentang waktu yang sama (Setyadi, 2009). Selanjutnya yang dimaksud tipe C menurut Badan Geologi Kementerian ESDM ialah gunung api yang tidak memiliki catatan letusan namun masih memperlihatkan jejak aktivitas vulkanik. Dalam kasus ini, gunung Tampomas memang diarea sekitarnya banyak menghasilkan sumber air panas. Kehadiran gunung Tampomas juga tidak terlepas dari pengendalian struktur regional yang menyediakan saluran magma untuk naik ke zona kerak yang lebih dangkal (Iskandar et al., 2018).

Geologi regional kawasan Gunungapi Tampomas terkini dan sekitarnya. Ini terdiri dari batuan sedimen Tersier di zona lingkaran luar dan ditutupi oleh produk vulkanik Quaternary di zona lingkaran dalam (Iskandar et al., 2018).

Masih berdasarkan penelitian yang dulakukan oleh Iskandar, secara fisiografis gunung api Tampomas terletak di bagian utara Cekungan Jawa Barat, yang disusun oleh batuan klastik sedimen Tersier (65 juta tahun yang lalu). Batuan sedimen tersier ini telah mengalami peristiwa tektonik dan terlipat serta patahan seiring dengan aktivitas gunung api pada umur Plio-Pleistosen (5 juta hingga 10 ribu tahun yang lalu). Hal ini diyakini dapat mengontrol pergerakan magma gunung api Tampomas. Selanjutnya, Iskandar juga menjelaskan bahwa evolusi gunung api Tampomas dimulai setelah terbentuknya sedimen basement tersier dan terjadi lebih dari dua kali. Selanjutnya, analisis penginderaan jauh dan kerja lapangan dilakukan untuk menentukan vulkanostratigrafi Tampomas. Berdasarkan analisis tersebut, evolusi gunung api Tampomas ditentukan.

Fase pertama adalah pembentukan Gunung Api Sumedang: ini adalah fase konstruksi aktivitas vulkanik awal. Fase kedua adalah fase penghancuran gunung api Sumedang dan pembentukan Kaldera Sumedang. Pada fase ketiga, Gunung Api Tampomas Tua terbentuk sebagai gunung api baru di dalam kaldera Sumedang. Gunung api Tampomas tua memasuki fase kehancuran dan membentuk Kaldera Cimalaka, dengan Gunung Api Muda Tampomas di dalam kaldera. Gambar di bawah ini memperlihatkan kenampakan kaldera hasil evolusi gunung api Tampomas muda. Manifestasi di sekitar kawasan Tampomas terkait dengan keberadaan gunung api Tampomas muda, dengan tepian kaldera Cimalaka sebagai batasnya (Iskandar et al., 2018).

Ciri morfologi gunung api Tampomas  terkini menunjukkan dua bagian lingkar kaldera. Tepi kaldera bagian luar terbentuk selama tahap pertama hingga kedua, dan tepi kaldera melingkar bagian dalam merupakan hasil dari aktivitas vulkanik tahap kedua dan ketiga (Iskandar et al., 2018).

Selain Iskandar, ada juga  penelitian serupa yang mengungkap sejarah bagaimana asal muasal gunung Tampomas terbentuk. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Reyhan Wiyarta Sundaji tahun 2018. Penelitian ini berjudul Geologi dan Studi Petrogenesa Gunung Tampomas dan Sekitarnya, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Berdasarkan penelitian tersebut disebutkan bahwa sejarah geologi pada gunung Tampomas dan sekitarnya dimulai dari umur tersier hingga kuarter. Hasil penelitian ini digambarkan melalui diagram blok untuk mengintrepetasikan mengenai kondisi bawah tanah (Sundaji, 2017). Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini mengenai urutan peristiwa terbentuknya gunung Tampomas.

Sumber : Sundaji, 2017

Sumber : Sundaji, 2017

Sumber : Sundaji, 2017

Begitulah kira-kira sejarah keterbentukan gunung Tampomas, gunung kebangga warga Sumedang secara geologi. Tidak heran memang, Kabupaten Sumedang menjadi kabupaten yang subur, pesawahan dan perkebunan tersebar luas diseluruh pelosok desa, hal ini berkat gunung Tampomas dan areanya yang menyimpan unsur hara tinggi. Selain itu sumber air untuk kebutuhan warga juga bersumber dari gunung Tampomas. Ditambah lagi beberapa sumber mata air panas yang terletak di beberapa daerah menjadi daya tarik tersendiri untuk pariwisata. Sumber air panas ini juga digandang-gadang bisa dimanfaatkan untuk sumber energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau Geothermal. Namun sayangnya, gunung yang memberikan banyak penghidupan untuk warga Sumedang ini rawan sekali mengalami pengrusakan akibat kegiatan penambangan. Oleh karena itu mari kita selaku warga Sumedang bahu membahu menjaganya. Kalau bukan putra daerah, siapa lagi?

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Referensi :

Iskandar, I., Dermawan, F. A., Sianipar, J. Y., Suryantini, & Notosiswoyo, S. (2018). Characteristic and mixing mechanisms of thermal fluid at the Tampomas Volcano, west Java, using hydrogeochemistry, stable isotope and222Rn analyses. Geosciences (Switzerland), 8(4). https://doi.org/10.3390/geosciences8040103

Mandela, W. (2015). PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA BANGSA DALAM DONGENG GUNUNG TAMPOMAS DAN CADAS PANGERAN (dalam Kontek Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas V SD). Jurnal Cakrawala Pendas, I(2), 55–64.

Setyadi, A. (2009). MUSEUM VULKANOLOGI MERAPI DI YOGYAKARTA [Universitas Atma Jaya Yogyakarta]. http://e-journal.uajy.ac.id/2344/3/2TA11607.pdf

Sundaji, R. W. (2017). GEOLOGI DAN STUDI PETROGENESA GUNUNG TAMPOMAS DAN SEKITARNYA, KABUPATEN SUMEDANG, JAWA BARAT [Institut Teknologi Bandung]. https://digilib.itb.ac.id/index.php/gdl/view/30355