Tanpa disadari, dari bangun tidur hingga tidur lagi, kita tidak terlepas dengan yang namanya barang tambang atau komoditas tambang. Mari kita runutkan secara sederhana. Pukul 04.30 pagi alarm jam berbunyi yang membuat kita terbangun. Jam sebagai alat penunjuk waktu tersebut ada yang berbahan dasar plastik atau polikarbon, ada pula yang berbahan dasar stainless steelStainless steel  merupakan salah satu produk pertambangan yang berbahan dasar besi, krom, karbon, nikel, molibdenum dan sejumlah kecil logam lainnya. Kemudian kita bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri menggunakan sabun. Sabun juga termasuk produk pertambangan. Lempung merupakan salah satu barang tambang yang dimanfaatkan untuk membuat sabun. Tentunya setelah semuanya bersih dan wangi, tidak lupa pula kita untuk berias didepan cermin. Cermin pun merupakan produk pertambangan dimana cermin atau kaca berbahan dasar silika yang bisa diperoleh dari ekstraksi pasir kuarsa.

Dari runtutan 3 aktivitas sebelumnya saja kita seharusnya sudah menyadari bahwa banyak sekali hasil kegiatan pertambangan yang sangat berguna bahkan dibutuhkan bagi penunjang aktivitas manusia. Apabila dirunutkan dari bangun tidur hingga tidur lagi, mungkin tulisan ini tidak akan cukup menjelaskan puluhan bahkan hingga ratusan barang tambang yang secara tidak sadar ternyata digunakan oleh kita sehari-hari. Lantas mengapa ketidaksadaran akan manfaat hasil pertambangan ini banyak terjadi di kalangan masyarakat kita? Dikarenakan yang selalu diangkat adalah hal-hal yang negatifnya saja, seperti merusak alam, mengakibatkan bencana alam, mengganggu ekosistem dan masih banyak lagi yang lainnya. Bukannya suatu hal yang ada di dunia ini tidak akan terlepas dari positif dan negatif, pro dan kontra, konstruktif dan destruktif? Sudah menjadi tanggung jawab umat manusia untuk meminimalisasi sesuatu yang negatif dan memaksimalisasi sesuatu yang positif. Hanya saja jangan sampai kita menutup mata diantara keduanya.

Dalam sejarah perdaban manusia, pertambangan menjadi salah satu mata pencaharian tertua di dunia. Hal ini dapat dilihat dari nama penanda suatu kemajuan peradaban manusia. Ahli-ahli sejarah menggunakan bahan tambang sebagai nama penanda. Contohnya dari mulai zaman batu yaitu sebelum 4000 SM. Berlanjut ke zaman logam yang teridiri dari zaman perunggu (4000 SM – 1500 SM), zaman besi (1500 SM – 1780 SM), zaman baja (1780 SM – 1945 SM). Dengan dijadikannya bahan tambang sebagai nama penenda dari suatu kemajuan peradaban manusia, secara otomatis pada masa tersebut sudah terdapat aktivitas pertambangan. Kita ambil contoh seperti ditemukannya kapak atau pisau purba yang terbuat dari batu. Lalu ada nekara, suatu hasil kemajuan kebudayaan manusia pada zaman perunggu yang digunakan untuk ritual keagamaan. Dari kapak batu atau pun nekara ini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa pada peradaban tersebut sudah mengenal penambangan bahkan sampai pengolahan bahan tambang.

Dalam bukunya, Tambang Untuk Negeri, Resvani (2017) menjelaskan bahwa pertambangan di dunia bermula pada 8.000 tahun lalu di Timur Tengah dengan ditemukannya penggunaan di Turki. Sedangkangkan pertambangan yang tertua, berdasarkan penanggalan radiokarbon tercatat 43.000 tahun lalu atau dikenal dengan zaman Paleolituikum. Pada zaman tersebut, terpatnya di Lion Cave, Swazilan, manusia sudah menambang hematit (Fe2O3) untuk membuat pigmen pewarna merah. Selain itu pada zaman yang sama di Hungaria, manusia Neanderthals sudah menambang batu untuk membuat senjata dan peralatan hidup. Jejak penambangan juga ditemukan pada zaman  Neolitikum dibuktikan dengan keberadaan tambang batu di Grime’s Graves, Inggris (3000 – 1900 SM) dan di Krzemionki, Polandia (3900 – 1600 SM).

Resvani (2017), masih dalam bukunya Tambang Untuk Negeri juga menjelaskan peradaban Mesir Kuno sudah melakukan penambangan logam paling berharga di dunia saat ini, yaitu emas, sejak 200 tahun SM menurut sejarawan Yunani Agatharcides dengan Nubia yang menjadi daerah pertambangan emas paling produktif. Salah satu peradaban paling berpengaruh di dunia, yaitu peradaban Romawi dan Yunani juga tidak akan terlepas dari sejarah pertambangan dunia. Penambangan perak di tambang Laurium selatan Yunani telah ada sekitar 11 tahun SM untuk menyokong negara kuno Athena. Tercatat 20.000 budak dipekerjakan pada saat itu. Begitu pun dengan peradaban Romawi yang mampu memproduksi 26 ton emas setiap tahunnya dari kegiatan pertambangan di Gunung Pangeo. Tambang ini beroperasi pada 357 SM, era kepemimpinan ayah dari Alexander Agung yang bernama Philip II of Macedon. Masih banyak penjelasan sejarah mengenai bukti-bukti bahwa pertambangan dari masa ke masa menjadi salah satu penyokong peradaban manusia, bahkan hingga sekarang.

There is no civilization without mines”, diungkapkan oleh Boyan Rashev (2019) dalam suatu artikel yang dipublikasi di American Chamber of Commerce in Bulgaria (www.amcham.bg). Ungkapan tersebut memang benar dan terbukti bahwa tidak akan ada peradaban tanpa pertambangan. Bukti-bukti kuat juga dijelaskan secara gamblang pada suatu jurnal yang ditulis oleh Fathi Habashi (2015) di International Journal of Mining Science (IJMS) Volume 1, Issue 1, June 2015, PP 43-53 (www.arcjournals.org). Jurnal yang berjudul Mining and Civilization memaparkan secara jelas mengenai bukti-bukti peninggalan sejarah kemajuan peradaban di dunia yang terkenal seperti Piramida dan Obelisks di Mesir, Stonehenge di Inggris, Colosseum di Italia, Taj Mahal di India, dan masih banyak lagi tidak terlepas dari peran pertambangan. Fathi Habashi yang merupakan peneliti dari Department of Mining, Metallurgical, and Materials Engineering, Laval University, Quebec City, Canada juga menjelaskan bahwa patung kuno, candi, monumen, dan artefak yang disimpan di museum yang merupakan warisan kita terutama karena para penambang yang mendapatkan bahan mentah dari sumber daya alam.

Kesimpulan dari tulisan ini pada dasarnya adalah kita umat manusia tidak dapat menafikkan peran penting pertambangan dalam menunjang kehidupan kita dari zaman purba hingga zaman sekarang. Meskipun stereotip masyarakat dunia sebagian besar menganggap pertambangan itu mengancam, namun tidak bisa dipungkiri kita akan selalu membutuhkannya. Akhirnya semua ini hanya tentang bagaimana tanggung jawab manusia sebagai makhluk penghuni bumi yang dianugerahi oleh Tuhan akal dan nurani dalam menjaga serta memelihara apa yang mereka miliki dan mereka butuhkan.

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Referensi :

Habashi, F. (2015). Mining and Civilization. International Journal of Mining Science (IJMS), 1(1), 43–53.

Rashev, B. (2019). There is no civilization without mines. American Chamber of Commerce in Bulgaria. https://amcham.bg/2019/03/26/there-is-no-civilization-without-mines/

Resvani. (2017). Tambang Untuk Negeri (B. Trimansyah (ed.); 1st ed.). Penerbit Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia.

Gambar oleh <a href="https://pixabay.com/id/users/8moments-4532813/?utm_source=link attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=3217765">Simon Berger</a> dari <a href="https://pixabay.com/id//?utm_source=link-attribution&amp;utm_medium=referral&amp;utm_campaign=image&amp;utm_content=3217765">Pixabay</a>